APACE dan APDI adalah angkutan khusus bagi pelajar di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kedua angkutan tersebut menjadi cikal bakal angkutan umum modern di Kota Banjarmasin saat ini, yakni Trans Banjarmasin.
APACE = Angkutan Pelajar Ceria
Layanan angkutan umum di Kota Banjarmasin dimulai dengan inisiasi Program Angkutan Pelajar Ceria (APACE) pada 1 Oktober 2018. Program ini merupakan layanan angkutan gratis yang disediakan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Perhubungan, khusus untuk mengantar dan menjemput pelajar.
Sesuai peruntukannya, angkutan pelajar ini hanya beroperasi pada hari-hari sekolah, dan armada APACE tidak diperbolehkan mengangkut penumpang selain pelajar.
Pada 2019, Program APACE menambah dua unit angkutan untuk melayani 10 trayek. Penambahan ini menggunakan angkutan umum yang sudah ada, yang dikenal masyarakat Banjarmasin sebagai Taksi Kota atau ”taksi kuning”. Kebijakan ini sebagai langkah strategis agar tidak menimbulkan gejolak.
Untuk mendukung operasional, setiap kendaraan mendapatkan insentif sebesar Rp 175.000 per hari. Pengembangan berlanjut pada 2020 dengan penambahan dua unit angkutan lagi, dan pada 2021 cakupan layanan diperluas hingga mencapai 15 trayek.
Di tahun 2022 dilakukan penambahan delapan unit angkutan lagi sehingga bisa mengangkut 325 penumpang per hari. Jumlah penumpang terus meningkat menjadi 387 penumpang per hari pada 2023 dan 477 penumpang per hari pada 2024.
Layanan gratis APACE bertujuan memberikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan bagi pelajar untuk berangkat dan pulang sekolah tanpa biaya. Angkutan ini beroperasi dengan rute (trayek) yang sudah ditetapkan dan jadwal antar-jemput yang disesuaikan dengan waktu masuk dan pulang sekolah.
Di samping membantu pelajar, program ini juga menjadi upaya untuk menghidupkan kembali angkutan kota atau “taksi kuning” yang sempat mati suri.
Dampak positif keberadaan angkutan pelajar ini adalah dapat meningkatkan keamanan pelajar saat bepergian ke sekolah dan membantu meningkatkan kesejahteraan para sopir angkot yang direkrut. Para sopir angkot kini mendapat kepastian pendapatan dan tidak perlu lagi menombok biaya BBM.
APDI = Angkutan Pelajar Disabilitas
Angkutan Pelajar Disabilitas (APDI) mulai efektif beroperasi di Banjarmasin pada 2019. Awalnya hanya menggunakan dua unit taksi kota dan melayani dua trayek. Tahun 2020 ada tambahan satu unit angkutan. Tahun 2021 bisa melayani enam trayek dan tahun 2022 dengan tambahan dua unit lagi bisa mengangkut 56 penumpang per hari.
Penumpang APDI juga terus meningkat. Pada 2023 meningkat menjadi 65 penumpang per hari, kemudian pada 2024 menjadi 70 penumpang per hari.
Pelayanan APACE dan APDI dilaksanakan sesuai dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada sekolah-sekolah di Kota Banjarmasin. Setiap jadwal KBM dikomunikasikan oleh sekolah-sekolah melalui pengemudi Angkutan Pelajar kepada Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin guna menyesuaikan jadwal layanan Angkutan Pelajar.
APACE dan APDI masing-masing melayani pada jam sekolah dengan satu kali penjemputan pagi untuk keberangkatan ke sekolah dan satu kali penjemputan siang untuk kepulangan dari sekolah. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk melayani hingga dua kali penjemputan, menyesuaikan kebutuhan dan minat pelajar menggunakan Angkutan Pelajar.
Hingga Maret 2025, Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin melalui Layanan APACE telah mengoperasikan 15 unit dan melayani total 57 sekolah. Sementara untuk Program APDI, Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin mengoperasikan lima unit dan melayani enam sekolah, yakni lima sekolah inklusi dan satu Sekolah Luar Biasa (SLB).
Program APACE dan APDI telah berjalan tujuh tahun sejak pertama kali diluncurkan pada 2018. Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin masih menjaga keberlanjutan program. Fokusnya kini pada peningkatan kualitas sumber daya manusia sopir APACE dan APDI, yang berjasa bikin pelajar ceria.
Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat









