32.1 C
Banjarmasin
Senin, September 21, 2026

Ikhtiar Menjaga Napas Topeng Banjar di Tengah Dinamika Zaman

Artikel Menarik

BANJARMASIN, Sapalah.com – Keberadaan Topeng Banjar telah menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Kalimantan Selatan, mencakup nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi masyarakat Banjar, khususnya di wilayah Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kesenian ini memiliki posisi khusus. Sejumlah pakem dan aturan adat melekat kuat dalam setiap proses pewarisan maupun pementasannya.

Nilai sakral yang melekat pada kesenian ini membuatnya tumbuh dalam ruang yang ekslusif. Pewarisan tradisi dilakukan melalui jalur tertentu, sementara pertunjukannya hadir dalam momen-momen adat seperti ritual tolak bala, pengobatan tradisional, maupun kegiatan kebudayaan tertentu.

Untuk itu, upaya merawat keberadaannnya di tengah dinamika zaman menjadi penting untuk dilakukan, terutama bagi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel).

Salah satu upayanya melalui gelaran kegiatan Revitalisasi Seni Topeng Banjar pada 19–20 Juni 2026 di Banjarmasin, sebagai ruang pertemuan antara pelaku seni, masyarakat, dan pencinta budaya.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Rizal Pahmi menyampaikan, revitalisasi bukan bermaksud menghadirkan bentuk baru dalam pertunjukan seni. Karena yang paling penting adalah menjaga keberlanjutan dengan tetap menghormati nilai lama.

“Tujuan revitalisasi ini adalah melakukan pembaruan tanpa menghilangkan pakem warisan terdahulu. Topeng Banjar memiliki nilai sakral sekaligus nilai seni pertunjukan,” ujar Rizal, Sabtu (20/6/2026).

Rizal memandang, Topeng Banjar memiliki nilai edukasi yang penting bagi generasi muda. Pengenalan terhadap kesenian tradisional dapat menjadi bagian dari pembelajaran budaya di lingkungan pendidikan.

Lebih lanjut, pihaknya juga berencana melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel untuk memasukkan Seni Topeng Banjar dalam kurikulum muatan lokal di sekolah.

“Inshaallah kami akan berkoordinasi dengan dinas. Mudah-mudahan mendapat respons yang baik sehingga anak-anak di lingkungan pendidikan dapat mengenal dan memahami warisan budaya Banjar ini,” katanya.

Ruang Kreativitas Lewat Topeng Srikandi

Upaya memperkenalkan Topeng Banjar juga hadir melalui karya baru yang digagas seniman tari, Lupi Anderiani.

Ia menciptakan Tari Topeng Srikandi, karya yang mengambil tokoh Srikandi dari kisah Mahabharata. Karya ini hadir di luar pakem klasik Topeng Panji yang selama ini menjadi bagian dari tradisi sakral masyarakat Barikin.

Lupi melihat Topeng Banjar klasik memiliki aturan adat yang kuat. Pewarisan dilakukan kepada keturunan tertentu dan pertunjukan masih berkaitan erat dengan ruang-ruang adat.

“Topeng Banjar di Barikin memiliki pakem Panji yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat. Regenerasinya cukup rumit karena hanya diturunkan kepada zuriat atau keturunan,” ujar Lupi dalam Sarasehan Tari Topeng Srikandi di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel.

Tari Topeng Srikandi menjadi bentuk eksplorasi Lupi dalam menghadirkan wajah baru Topeng Banjar, dengan tetap melakukan pendekatan kepada tokoh adat sebelum menciptakan karya tersebut.

Salah satu tokoh yang memberikan dukungan ialah almarhum Dalang Dimansyah, maestro dalang Banjar sekaligus tokoh adat keturunan pewaris tradisi.

“Pertama kami melakukan pendekatan kepada tokoh adat dan meminta pendapat apakah memungkinkan membuat topeng baru di luar pakem Panji. Salah satu yang memberikan izin adalah almarhum Dalang Dimansyah,” kenangnya.

Dalam proses penciptaannya, Lupi melakukan riset terhadap karakter Srikandi dalam Wayang Kulit Banjar. Visual tokoh tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk topeng dengan pendekatan seni Banjar.

Lupi menilai, karya tersebut masih terbuka untuk pengembangan dan masukan dari para pelaku seni. Kehadiran Topeng Srikandi bukan untuk menggantikan Topeng Panji, malah ditujukan menghadirkan ruang baru dalam perjalanan kesenian Topeng Banjar.

“Tujuan kami bukan mengubah atau mencederai tradisi yang ada, tetapi mencari ruang agar Topeng Banjar tetap hidup, dikenal, dan berkembang di tengah masyarakat luas,” ujarnya.

Dokumentasi Budaya Melalui Kajian Akademik

Pelestarian Topeng Banjar juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi yang melihat penelitian dan dokumentasi menjadi bagian penting dalam perjalanan kesenian tradisional ini.

Topeng Banjar, katanya, menyimpan potensi besar sebagai objek kajian ilmu pengetahuan. Penelitian, pengabdian masyarakat, dan penerbitan literatur dapat memperkaya dokumentasi mengenai kesenian tersebut.

“Perlu diperbanyak penelitian, dokumentasi, dan pengabdian masyarakat agar Topeng Banjar tidak hanya dikenal sebagai bagian dari panggung pertunjukan, tetapi juga dapat dipelajari sebagai ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Setia Budhi menyebut literatur mengenai Topeng Banjar masih terbatas. Buku dan hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi masyarakat, akademisi, maupun pemerintah daerah dalam melihat perjalanan kesenian tradisional Banjar.

Topeng Banjar kini berada di antara dua ruang: menjaga akar tradisi sekaligus membuka kemungkinan baru. Di satu sisi, nilai sakral tetap dihormati. Di sisi lain, kreativitas terus bergerak mencari jalan agar warisan budaya ini tetap hadir dalam kehidupan masyarakat. (RR)

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Berita Terkini