32.1 C
Banjarmasin
Senin, September 21, 2026

SDN Teluk Dalam 10 Hanya Punya Satu Murid Baru, DPRD Minta Disdik Evaluasi

Artikel Menarik

BANJARMASIN, Sapalah.com – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi pengalaman yang berbeda bagi Talita Nazwa.

Siswi baru SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin itu harus menjalani tahun ajaran baru sebagai satu-satunya murid kelas 1 di sekolahnya.

Agar tidak merasa sendirian, Talita mengikuti kegiatan MPLS bersama belasan siswa SDN Teluk Dalam 9 yang berada tepat di samping sekolahnya, Senin (13/7/2026).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin, Arief Rahman Hakim mengatakan, penggabungan kegiatan MPLS tersebut merupakan hasil koordinasi dengan pengawas pembina.

“Kami ingin Talita tetap bisa berinteraksi dengan teman-teman seusianya. Karena itu, selama MPLS kami gabungkan dengan SDN Teluk Dalam 9 agar dia tidak merasa kesepian,” ujarnya.

Sepanjang kegiatan, Talita tampak mengikuti setiap rangkaian MPLS dengan tertib. Sesekali ia masih terlihat canggung, sementara para orang tua turut mendampingi anak-anak mereka mengikuti kegiatan hari pertama sekolah.

Janji SDN Teluk Dalam 10

Meski hanya memiliki satu murid baru, Arief memastikan proses belajar mengajar di SDN Teluk Dalam 10 tetap berjalan seperti biasa.

Seluruh hak belajar peserta didik tetap akan dipenuhi sesuai standar pendidikan.

“Kebetulan untuk kelas 1 ini kami hanya menerima satu orang murid. Jadi untuk proses pembelajaran, kami akan terus menjaga kualitas pembelajaran,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Talita nantinya akan mengikuti pembelajaran secara one on one, yakni satu guru untuk satu murid.

“Situasi itu tidak akan mengurangi kualitas layanan pendidikan yang diberikan sekolah,” janjinya.

Arief yang juga menjabat Kepala SDN Teluk Dalam 9 mengungkapkan, pihak sekolah sebenarnya telah berupaya maksimal menjaring peserta didik baru.

Guru-guru bahkan mendatangi rumah-rumah warga di gang-gang sekitar sekolah untuk melakukan sosialisasi.

Namun, hasilnya belum sesuai harapan. SDN Teluk Dalam 9 hanya menerima 19 murid baru, sedangkan SDN Teluk Dalam 10 hanya mendapatkan satu siswa, yakni Talita.

Di balik situasi tersebut, Talita tetap tampak bersemangat menjalani hari pertamanya di sekolah.

Saat ditanya perasaannya, ia mengaku senang meski masih malu-malu karena berada di lingkungan baru.

Ia bahkan antusias memperlihatkan isi tas sekolahnya. Di dalamnya terdapat buku, alat tulis, pensil, pulpen, lem, hingga berbagai camilan yang telah disiapkan untuk menemani hari pertamanya belajar.

Sementara itu, ibunda Talita, Siti Mariam, mengaku baru mengetahui putrinya menjadi satu-satunya murid kelas 1 setelah proses pendaftaran selesai.

“Pas bertanya, baru tahu kalau muridnya cuma satu. Sempat mau pindah ke sekolah lain, tapi akhirnya tidak jadi karena seluruh proses pendaftaran sudah selesai,” tuturnya.

Disoroti Dewan

Fenomena minimnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah dasar negeri, khusunya SDN Teluk Dalam 10 yang hanya menerima satu murid, mendapat perhatian DPRD Kota Banjarmasin.

Dinas Pendidikan (Disdik) setempat diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab kondisi tersebut sekaligus menyiapkan langkah penanganan yang tepat.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Banjarmasin, Saut Nathan Samosir, mengatakan evaluasi harus dilakukan dengan turun langsung ke lapangan.

Pemerintah perlu memastikan apakah berkurangnya jumlah siswa dipengaruhi menurunnya jumlah anak usia sekolah atau justru disebabkan persoalan lain, seperti kondisi sarana prasarana maupun kualitas layanan pendidikan.

“Kita sangat miris melihat kondisi ini. Harapan kami Dinas Pendidikan segera turun ke lapangan untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Apakah memang sudah tidak ada anak usia sekolah di wilayah itu, atau ada persoalan di sekolah tersebut, misalnya infrastruktur maupun faktor lainnya,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Saut menilai hasil evaluasi nantinya harus menjadi dasar dalam menentukan kebijakan penataan sekolah di Kota Banjarmasin.

Jika penyebabnya adalah berkurangnya jumlah anak usia sekolah, pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan dengan kondisi tersebut.

Namun apabila ditemukan persoalan lain, seperti fasilitas maupun kualitas layanan pendidikan, pembenahan harus segera dilakukan.

Apabila hasil kajian menunjukkan sekolah tersebut sudah tidak lagi efektif beroperasi, Saut mengusulkan agar dilakukan penggabungan dengan sekolah dasar negeri terdekat.

“Kalau menurut kami, sebaiknya sekolah itu digabung dengan SD terdekat agar anak tidak harus belajar sendirian dan tetap bisa bersosialisasi dengan teman-temannya,” katanya.

Penataan sekolah juga perlu mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi peserta didik.

Selain menjamin efektivitas penyelenggaraan pendidikan, langkah tersebut juga penting agar anak-anak tetap memperoleh lingkungan belajar yang mendukung perkembangan akademik maupun kemampuan bersosialisasi.

DPRD berharap hasil evaluasi Disdik Banjarmasin dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan penataan sekolah, sehingga layanan pendidikan di Kota Banjarmasin tetap berjalan optimal dan merata.

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Berita Terkini