32.1 C
Banjarmasin
Senin, September 21, 2026

Satu Dekade FSB Menjaga Mimpi Perfilman di Banua

Artikel Menarik

BANJARMASIN, Sapalah.com – Forum Sineas Banua (FSB) memasuki babak baru setelah genap berusia 10 tahun.

Komunitas perfilman di Kalimantan Selatan itu mendeklarasikan Yayasan Ruang Sinema Banua pada Sabtu (25/7/2026) malam sebagai upaya memperkuat kelembagaan sekaligus menjaga keberlanjutan geliat perfilman di daerah.

Deklarasi berlangsung di markas FSB, Jalan Pramuka, Banjarmasin, dan dihadiri para sineas, produser, kru produksi, komunitas film, hingga pelajar SMK jurusan broadcasting dan perfilman.

Perjuangan Membangun Ekosistem

Ketua FSB, Munir Shadikin, mengatakan pembentukan yayasan diperlukan agar perjuangan membangun ekosistem perfilman memiliki dasar hukum dan administrasi yang lebih kuat.

“Selama ini FSB lebih bersifat komunitas. Dengan adanya yayasan, posisi kami menjadi lebih kuat secara administratif maupun kelembagaan,” ujarnya.

Menurut Munir, selama satu dekade terakhir FSB telah menjadi mitra berbagai pemerintah daerah di Kalimantan Selatan, baik sebagai penyelenggara maupun konsultan kegiatan perfilman.

Namun, keberlangsungan program kerap dipengaruhi pergantian kepala daerah.

“Karena itu kami ingin memiliki pondasi organisasi yang lebih kuat agar kerja-kerja membangun perfilman bisa terus berlanjut,” katanya.

Munir menilai perkembangan sumber daya manusia perfilman di Kalimantan Selatan juga semakin pesat.

Untuk produksi film skala kecil hingga menengah, hampir seluruh tahapan kini sudah mampu dikerjakan kru lokal.

Hanya beberapa posisi teknis pada produksi berskala besar yang masih membutuhkan tenaga dari luar daerah.

“Saya berharap 10 tahun ini menjadi pembuktian bahwa ruang seperti ini masih ada. Masih ada orang-orang yang menjaga api perfilman Banua secara swadaya. Harapannya bukan hanya 10 tahun, tapi bisa sampai 100 tahun.”

Terus Bertumbuh

Senada, Pembina FSB, Ade Hidayat, menyebut perkembangan perfilman Banua dalam satu dekade terakhir cukup signifikan.

Produksi film terus bertambah, mulai dari film pendek, film lokal, hingga film panjang yang berhasil menembus bioskop nasional.

Meski demikian, menurutnya masih ada mata rantai yang belum dimiliki Kalimantan Selatan, yakni ruang distribusi berupa bioskop mandiri bagi karya sineas lokal.

“Kalau produksi kita sudah banyak. Yang belum kita punya justru ruang distribusi. Kami berharap suatu saat Kalimantan Selatan memiliki bioskop mandiri sehingga karya sineas lokal punya tempat untuk diputar dan dijual,” katanya.

Untuk menjawab tantangan itu, Yayasan Ruang Sinema Banua juga menyiapkan program bimbingan belajar perfilman yang ditargetkan mulai berjalan tahun depan.

Program tersebut akan membuka enam kelas, yakni penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, tata suara, penyuntingan, dan artistik.

Ade berharap langkah tersebut dapat melahirkan lebih banyak talenta perfilman di Kalimantan Selatan. Ia juga mendorong pemerintah daerah memberi perhatian yang lebih besar terhadap subsektor film sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

“Film juga merupakan bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Mudah-mudahan ke depan perhatian pemerintah terhadap perfilman bisa lebih besar,” pungkasnya. (RR)

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Berita Terkini