32.1 C
Banjarmasin
Senin, September 21, 2026

Program Kanas Anum, Memberi Ruang bagi Generasi Baru Sinema Banua di Layar Film Banjar 2026

Artikel Menarik

BANJARMASIN, Sapalah.com – Regenerasi menjadi salah satu pekerjaan rumah perfilman Kalimantan Selatan (Kalsel). Di tengah keterbatasan ruang dan pendidikan formal, Layar Film Banjar (LFB) 2026 mencoba membuka pintu bagi wajah-wajah baru melalui pemutaran karya pelajar dan pembuat film pemula.

Memasuki penyelenggaraan kelima, LFB yang mengusung tema “Salawasnya” dibuka di Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat malam (14/8).

Sejumlah film karya pelajar diputar melalui program Kanas Anum yang menjadi salah satu upaya LFB memberikan ruang bagi pembuat film yang baru memulai perjalanan di dunia sinema.

Perjalanan Panjang

Tahun ini, LFB juga membawa sejumlah semangat perayaan 500 tahun Kota Banjarmasin, menandai 10 tahun perjalanan Forum Sineas Banua, sekaligus kembali digelar di UPTD Taman Budaya Kalsel.

Bagi penyelenggara, Taman Budaya memiliki hubungan panjang dengan perkembangan kesenian di Banua.

Tempat ini selama bertahun-tahun menjadi ruang bagi seniman dan komunitas untuk berkarya serta bertemu dengan penonton.

Sehingga, kembalinya LFB ke Taman Budaya juga menjadi bagian dari perjalanan festival dalam mencari ruang yang lebih luas bagi perkembangan film daerah.

Program yang Membuka Ruang bagi Sineas Baru

Direktur LFB 2026, Munir Shadikin, mengatakan tema “Salawasnya” diambil dari kata “lawas”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tersebut bermakna luas, lapang, dan lega.

Makna tersebut kemudian diterjemahkan sebagai harapan agar ruang bagi sineas dan penikmat film di Kalsel semakin terbuka.

Tidak hanya bagi pembuat film yang telah memiliki nama, tetapi juga mereka yang baru belajar dan mencari pengalaman.

“Tema ‘Salawasnya’ kami angkat sebagai manifestasi dari harapan untuk menciptakan ruang yang seluas-luasnya, selapang-lapangnya, dan selega-leganya bagi para sineas maupun penikmat film di Kalimantan Selatan,” kata Munir.

Sebab, kebutuhan terhadap ruang tersebut masih cukup besar. Perkembangan film lokal menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari regenerasi sineas yang belum sistematis, keterbatasan peralatan produksi, hingga persoalan biaya.

Kalsel juga belum memiliki pendidikan formal yang secara khusus menyediakan jalur seni film.

Sebagian pembuat film akhirnya belajar melalui komunitas, pengalaman produksi, serta berbagai kegiatan perfilman.

Meski demikian, karya sineas Banua mulai mendapat perhatian di luar daerah. Sejumlah film lokal telah masuk festival seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Minikino.

Sebagian sineas juga mulai memperoleh akses pendanaan melalui berbagai program film tingkat nasional.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan LFB terus menyediakan program dan ruang bagi pembuat film dengan berbagai latar belakang dan tingkat pengalaman.

Dari Ruang Kelas ke Layar

Salah satu upaya tersebut terlihat dalam program Kanas Anum. Program ini secara khusus memberikan panggung kepada pembuat film pemula, terutama pelajar.

“Program Kanas Anum ini kami hadirkan khusus untuk memberi wadah bagi para pembuat film pemula,” ujar Munir.

Pada malam pembukaan, tiga film karya pelajar turut diputar. Ada “Serbuk Harapan” karya siswa SMAN 1 Gambut yang menjadi pemenang FLS2N tingkat SMA Kalimantan Selatan. Kemudian “Untukmu Dariku” karya siswa SMK 3 Muhammadiyah Banjarmasin yang menjadi pemenang FLS2N tingkat SMK Kalsel.

Film “Tampulu Masih Ada” karya siswa SMKN 2 Banjarmasin juga ditampilkan. Karya tersebut dinilai telah menunjukkan kualitas yang cukup baik untuk ukuran film pelajar.

Selain film pelajar, ada pula “Tangui di Atas Sungai”, karya debut sutradara pemula yang diproduksi dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel.

Cerita yang dibawa film-film tersebut banyak berangkat dari kehidupan yang dekat dengan pembuatnya. Keluarga, sekolah, hubungan antarmanusia, hingga kebudayaan lokal menjadi bahan cerita.

Gawai juga cukup sering hadir dalam cerita. Hal tersebut menggambarkan keseharian generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital.

Dari karya-karya itu, film pelajar tidak sekadar menjadi tugas atau hasil pembelajaran. Kamera menjadi cara untuk merekam kehidupan yang mereka kenal dan mengubahnya menjadi cerita.

Memotret Banua di Layar

Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan “Bekesahan Sinema” yang menghadirkan Johansyah Jumberan dan Rina Basrindu atau Acil Imas.

Forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan perjalanan film lokal sekaligus berbagai persoalan yang masih dihadapi pembuat film di Kalsel.

LFB 2026 berlanjut pada Sabtu malam (15/8). Salah satu program yang kembali hadir adalah Bioskop Bisik, pemutaran film yang dilengkapi audio deskripsi dan subtitle video Juru Bahasa Isyarat (JBI).

Program ini menjadi bagian dari upaya membuka akses menonton bagi penonton dengan kebutuhan yang berbeda.

Pada malam pembukaan, masyarakat umum, pelajar, dan anak muda terlihat memenuhi ruangan untuk menyaksikan film-film yang sebagian dibuat oleh pembuat film seusia mereka.

Zairullah, siswa SMKN 2 Banjarmasin, datang setelah mengetahui informasi LFB melalui media sosial. Ia mengaku tidak menyangka ada festival film lokal dengan rangkaian acara seperti itu di Banjarmasin.

“Tidak menyangka sama sekali kalau di Banjarmasin ada festival film lokal sekeren ini,” katanya.

Ia semakin tertarik setelah melihat karya teman-teman seusianya diputar di hadapan penonton.
“Pas nonton karya kawan-kawan seangkatan, ulun (saya) kagum sekali. Kualitasnya sudah mantap dan berstandar bagus,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan semacam itu perlu lebih sering digelar agar semakin banyak anak muda mendapat kesempatan mengenal dan membuat film.

Hal serupa disampaikan Gina Katrunada. Ia datang karena diajak teman dan awalnya hanya ingin melihat suasana festival.

Setelah menonton, Gina melihat film-film yang ditampilkan tidak hanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tetapi juga membawa kebudayaan Banjar ke dalam cerita.

“Ini pertama kalinya saya datang karena diajak teman dan penasaran dengan suasana serta alur ceritanya. Ternyata seru sekali, menginspirasi, dan karya yang ditampilkan sangat berkualitas,” ujarnya.

Menurut Gina, unsur kebudayaan lokal menjadi salah satu bagian yang paling berkesan.
“Yang paling berkesan, film-filmnya berhasil mengangkat kebudayaan lokal Banjar yang unik dan khas,” katanya.

Ia berharap ruang apresiasi terhadap film daerah tidak berhenti pada satu festival. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal kebudayaan sendiri melalui karya sineas lokal.

“Ruang apresiasi sinema daerah seperti ini penting sekali ada supaya masyarakat bisa lebih mengenal kebudayaan sendiri secara dekat,” tutupnya.

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Berita Terkini