BANJARBARU, Sapalah.com – Ketika intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat, Kota Banjarbaru justru tidak memiliki sistem pemantauan kualitas udara yang dapat bekerja secara real-time.
Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang terpasang di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Masjid Agung Banjarbaru sudah tidak berfungsi karena mengalami kerusakan sejak sekitar dua tahun terakhir.
Kepala Bidang Penegakan Hukum dan Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarbaru, Akhmad Arie Wijaya Abdur mengatakan, kerusakan AQMS tersebut telah dilaporkan kepada KLH.
“Sudah kami sampaikan ke kementerian bahwa alat tersebut sudah tidak berfungsi. Padahal keberadaannya vital untuk mengetahui sejauh mana terdampak karhutla,” kata Arie saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).
Namun, hingga kini perbaikan belum dapat dilakukan. Karena KLH juga sedang melakukan efisiensi anggaran sehingga pengadaan suku cadang untuk AQMS yang rusak belum terealisasi.
“Pergantian sparepart-nya yang rusak masih belum bisa dilakukan,” ungkapnya.
Tak Bisa Melihat Perubahan Udara Secara Langsung
Kerusakan AQMS membuat DLH Banjarbaru tidak dapat mengetahui perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu secara langsung.
Padahal, kondisi udara dapat berubah cepat ketika karhutla terjadi, terlebih saat asap mulai bergerak menuju kawasan permukiman.
Sedangkan, pengukuran secara manual membutuhkan waktu lebih lama karena sampel yang diambil harus dianalisis terlebih dahulu di laboratorium.
“Biasanya hasilnya keluar sehari atau dua hari. Sedangkan untuk aspek kedaruratannya, misal sudah beberapa hari lagi baru keluar data yang ada, tidak real-time,” jelasnya.
Berbeda dengan sistem AQMS yang mampu merekam kondisi udara setiap jam, serta juga dapat ditampilkan melalui indikator kualitas udara sehingga perubahan kondisi dapat segera diketahui.
DLH Andalkan Sampling Manual
Meski AQMS tidak berfungsi, DLH Banjarbaru tetap melakukan pemantauan melalui pengambilan sampel udara ambien.
Sampling dilakukan UPT Laboratorium Banjarbaru di empat lokasi yang berada di sekitar kawasan terdampak karhutla.
Salah satunya berada di Pengayuan, Kecamatan Landasan Ulin Selatan, hingga wilayah perbatasan Banjarbaru dengan Kabupaten Tanah Laut.
Empat parameter gas yang diperiksa meliputi sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NO2).
“Empat gas yang diukur masih di bawah batas,” kata Arie.
Namun, hasil tersebut tidak dapat menggambarkan kondisi udara sepanjang hari. Pengambilan sampel hanya dilakukan pada waktu tertentu dan tidak berlangsung selama 24 jam.
“Kita sendiri menggunakan alat manual dalam pengambilan udara ambien. Pengambilan sampel hanya sesaat, tidak 24 jam,” jelasnya.
Sampel kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Karena proses tersebut membutuhkan waktu, hasil pengukuran tidak bisa langsung diketahui di lokasi.
“Tidak bisa langsung keluar hasilnya dalam satu jam, nunggu beberapa hari dulu,” ujarnya.
Karhutla Terus Menghantui
Keterbatasan pemantauan tersebut berlangsung ketika karhutla di Banjarbaru masih menunjukkan intensitas tinggi.
Berdasarkan data BPBD Kalsel, sejak Januari hingga 11 Agustus 2026 tercatat 244 kejadian karhutla di Banjarbaru. Luasan lahan terdampak mencapai sekitar 672 hektare.
Asap dari kebakaran juga telah dirasakan warga di sejumlah kawasan. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap data kualitas udara yang cepat menjadi semakin penting, terutama untuk mengetahui perubahan kondisi udara ketika kabut asap muncul.
Kasus ISPA Ikut Meningkat
Di tengah situasi tersebut, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Banjarbaru juga mengalami kenaikan dalam dua pekan terakhir.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, mengatakan terdapat peningkatan dari Minggu Epidemiologi ke-29 ke pekan berikutnya.
“Pada Minggu Epidemiologi ke-29 tercatat 879 kasus ISPA. Kemudian pada Minggu ke-30 kembali mengalami kenaikan menjadi 1.099 kasus,” bebernya.
Secara kumulatif, jumlah kasus ISPA di Banjarbaru sejak Januari hingga Juli 2026 mencapai 21.323 kasus.
Namun, Dinkes mengingatkan peningkatan kasus tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan kabut asap karhutla. ISPA memiliki banyak faktor pemicu, termasuk infeksi virus dan bakteri, perubahan cuaca, kualitas udara di dalam rumah, hingga paparan asap rokok.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar
Meski hasil pengukuran manual yang dilakukan DLH sejauh ini masih berada di bawah ambang batas, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
DLH mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak.
Khusus masyarakat di Landasan Ulin, aktivitas di luar rumah pada pagi hari sebaiknya dikurangi karena kabut asap masih kerap muncul dan baru berangsur menipis menjelang siang. (RR)