BANJAR, Sapalah.com – Ratusan hektare lahan di Kabupaten Banjar telah terdampak karhutla sepanjang musim kemarau 2026. Bersamaan dengan itu, kekeringan mulai menjangkau puluhan desa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat 96 kejadian karhutla dengan luasan lahan terdampak mencapai 372,558 hektare.
Kebakaran tersebar di 50 desa yang berada di 12 kecamatan. Dari total luasan tersebut, sekitar 31 hektare merupakan kawasan hutan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha mengatakan, sebagian kebakaran terjadi di lahan yang tidak produktif, seperti lahan tidur dan semak belukar.
Sejumlah titik juga berada jauh dari permukiman sehingga cukup sulit dijangkau petugas.
“Memang banyak yang terbakar lahan-lahan yang tidak produktif karena tidak dijaga, tidak dirawat, tidak dipelihara, terlebih di tengah kemarau. Sifatnya lahan tidur, semak, dan beberapa hutan yang memang lokasinya jauh sulit dijangkau,” jelas Wasis, Selasa (11/8/2026).
Terkait penyebab kebakaran, Wasis mengatakan pihaknya sejauh ini belum menemukan bukti yang menunjukkan adanya unsur kesengajaan manusia.
“Sejauh pemantauan kami, kita belum menemukan langsung kesengajaan manusia. Tidak ada buktinya,” katanya.
Satgas Dikerahkan
Untuk menghadapi ancaman karhutla saat puncak kemarau, Pemkab Banjar telah menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan/atau lahan serta kekeringan melalui Keputusan Bupati Banjar Nomor 188.45/312/KUM/BPBD/2026. Status tersebut berlaku sejak 15 Juli hingga 30 September 2026.
Selama masa siaga, satuan tugas (satgas) penanganan karhutla diaktifkan dengan dukungan posko induk dan posko lapangan.
“Untuk penanganan, satgas yang kita punya kita aktifkan. Ada posko induk dan posko lapangan,” ujar Wasis.
Sekitar 40 personel BPBD disiagakan di lapangan. Mereka bekerja bersama TNI, Polri, unsur SKPD, relawan, PMI, dan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).
Dari sisi peralatan, kebutuhan pemadaman sejauh ini masih dapat dipenuhi melalui dukungan relawan dan BPK di wilayah terdekat. Kendaraan tangki juga dikerahkan untuk menyuplai air selama proses pemadaman dan pembasahan lahan.
Namun, kondisi berbeda ketika titik api berada jauh dari sumber air. Jarak tersebut menjadi salah satu kendala petugas dalam menangani kebakaran.
“Untuk lokasi yang memang jauh, titiknya jauh, itu memang ada kesulitan sumber airnya. Tetapi setiap kejadian kita juga bawa tangki air untuk air baku, proses pemadaman dan tentunya pembasahan di lokasi,” terang Wasis.
Hingga siang saat wawancara dilakukan, BPBD bersama satgas belum menemukan kejadian karhutla baru berdasarkan pemantauan di lapangan.

87 Desa Terdampak Kekeringan
Tekanan musim kemarau tidak berhenti pada ancaman kebakaran. Kekeringan juga mulai memengaruhi kehidupan warga di sejumlah wilayah.
BPBD Kabupaten Banjar mencatat 87 desa di 12 kecamatan telah terdampak kekeringan akibat kemarau. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap pasokan air bersih meningkat.
Untuk membantu warga, BPBD telah meminjam-pakaikan sekitar 140 tandon air kepada desa-desa yang terdampak.
Penyaluran air bersih juga dilakukan ke sejumlah lokasi yang membutuhkan. Total air bersih yang telah didistribusikan BPBD mencapai 1.042.050 liter.
Wasis mengatakan penanganan kekeringan dilakukan bersamaan dengan upaya pengendalian karhutla. BPBD berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Balai Wilayah Sungai (BWS), Balai PU, TNI, Polri, relawan, hingga unsur terkait lainnya.
“Sejauh ini alhamdulillah masih bisa terlayani kebutuhan masyarakat yang sedang krisis air bersih,” pungkasnya. (RR)







