24.1 C
Banjarmasin
Minggu, September 20, 2026

Virgo Transport 8 Tenggelam di Laut Jawa, Enam Orang Meninggal dan Ratusan Masih Dicari

Artikel Menarik

BANJARMASIN, Sapalah.com – Kapal Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin dilaporkan tenggelam di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari.

Hingga pukul 15.00 Wita, 113 orang dikabarkan telah dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 107 orang ditemukan selamat, dan enam lainnya meninggal dunia. Sementara ratusan penumpang dan awak kapal lainnya masih dalam pencarian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin melalui SAR Mission Coordinator (SMC), I Putu Sudayana mengatakan, para korban yang berhasil dievakuasi dibawa ke empat kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Rinciannya, TB Mauhaw IX mengevakuasi 16 orang, TB TCP enam orang, MV Haida 69 orang, dan KM Cahaya Bahari Jaya sebanyak 22 orang.

TB Mauhaw IX selanjutnya diarahkan menuju Pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Sementara TB TCP dan MV Haida menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.

Posko Operasi SAR didirikan di kawasan Pelabuhan Trisakti sejak Minggu pagi. Sejumlah keluarga penumpang dan awak kapal juga mulai mendatangi posko untuk mendapatkan informasi mengenai kerabat mereka.

Kapal Hilang Kontak Setelah Hadapi Cuaca Buruk

Informasi mengenai kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 pertama kali diterima Kantor SAR Banjarmasin pada pukul 04.10 WITA dari Yoel Rihi, General Manager PT Virgo.

Kapal Virgo Transport 8 berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 10.13 WITA.

Kapal kemudian dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA saat menghadapi cuaca buruk dalam perjalanan menuju Banjarmasin.

Posisi terakhir kapal diperkirakan berada di perairan Laut Jawa, sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.

Kantor SAR Banjarmasin kemudian mengerahkan enam personel menuju Dermaga SAR Basirih sekitar pukul 04.30 WITA.

Tim melanjutkan pencarian menggunakan KN SAR Laksmana 241 menuju lokasi perkiraan kapal.

I Putu Sudayana mengatakan operasi pencarian dan pertolongan melibatkan berbagai unsur untuk mempercepat proses evakuasi.

“Mengingat jumlah penumpang dan awak kapal yang cukup banyak, kami mengoptimalkan koordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk mempercepat proses pencarian dan memastikan keselamatan seluruh penumpang serta awak kapal,” ujarnya.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyatakan, sebelum kondisi Kapal Virgo Transport 8 memburuk, awak kapal sempat melaporkan kepada perusahaan, mereka menghadapi cuaca buruk.

“Pada saat kapal mengalami kondisi menghadapi cuaca buruk, dari awak kapal sudah menyampaikan kepada perusahaan bahwa kapal mengalami atau menghadapi cuaca yang tidak baik,” kata Syafii dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu sore.

Beberapa jam kemudian, kondisi kapal mengalami perubahan center of gravity yang menyebabkan kapal miring.

Awak kapal kemudian mengirimkan broadcast untuk meminta bantuan dan mengaktifkan perangkat darurat EPIRB.

Syafii mengatakan jarak lokasi kejadian menjadi salah satu tantangan dalam operasi pencarian. Dari Banjarmasin, lokasi tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam.

Basarnas Command Center selanjutnya mendeklarasikan kondisi kedaruratan kepada pengguna lalu lintas laut di sekitar Laut Jawa agar kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi dapat membantu proses pencarian dan evakuasi.

Virgo
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Kepala Basarnas Mohammad Syafii dan Kapolda Kalsel, Irjen Rosyanto Yudha saat konferensi pers penanganan kecelakaan kapal Virgo Transport 8 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Minggu (13/9/2026).
Keluarga Cemas Menunggu Kabar

Keluarga penumpang terus berdatangan ke Posko Operasi SAR di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Warga Banjarmasin, Rusmilawati datang untuk mencari informasi mengenai delapan kerabatnya yang berada di dalam kapal.

Mereka sebelumnya bepergian ke Jawa untuk berziarah ke sejumlah makam ulama.

“Awalnya berangkat pakai pesawat, baliknya handak mencoba pakai kapal,” ujarnya.

Hingga Minggu siang, Rusmilawati belum memperoleh kepastian apakah delapan kerabatnya termasuk dalam penumpang yang telah dievakuasi.

Komunikasi terakhir dengan salah satu kerabat terjadi melalui status WhatsApp. Dalam unggahannya, kerabat tersebut sempat menulis mengenai kondisi ombak yang buruk.

Rusmilawati berharap seluruh kerabatnya ditemukan dalam keadaan selamat.

“Mudahan-mudahan selamat saja,” ucapnya.

Sementara itu, kabar baik diterima Misnah setelah mengetahui suaminya, Ahmad Supandi, berhasil dievakuasi dengan selamat.

Ahmad merupakan sopir ekspedisi yang berada di dalam kapal dan ditemukan selamat setelah dievakuasi menggunakan MV Haida.

Misnah menangis haru ketika mendapat kabar tersebut. Namun, sejumlah keluarga lainnya masih menunggu kepastian mengenai keberadaan kerabat mereka.

Jenah, salah satunya, masih mencari kabar kakaknya yang berada di dalam kapal. Kakaknya diketahui tengah merantau di Madura, Jawa Timur, dan memutuskan kembali ke Banjarmasin pada Sabtu.

Kontak terakhir terjadi sebelum kapal berangkat. Setelah itu, pesan yang dikirim Jenah hanya menunjukkan tanda centang satu.

“Mudah-mudahan cepat ditemukan,” harapnya.

KNKT Investigasi Penyebab Kecelakaan

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan kecelakaan Virgo Transport 8 akan diinvestigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Investigasi dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap sistem keselamatan transportasi laut.

“Terkait penyebab terjadinya musibah ini, pemerintah akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Proses tersebut akan dilaksanakan oleh KNKT sesuai dengan kewenangannya,” kata Dudy dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Dudy meminta semua pihak memberikan ruang kepada KNKT untuk menjalankan investigasi secara profesional dan independen.

Kecelakaan kapal juga terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 2026. Pada Juli lalu, KM Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 58 orang selamat, tiga orang meninggal dunia, sementara 14 lainnya masih belum ditemukan.

Data Mahkamah Pelayaran Kementerian Perhubungan mencatat 111 kecelakaan kapal sepanjang 2020 hingga 2026. Tubrukan menjadi jenis kecelakaan terbanyak dengan 40 kasus atau 36 persen.

Selanjutnya, kecelakaan kapal tenggelam sebanyak 28 kasus (24 persen), kandas 24 kasus (22 persen), dan kebakaran 20 kasus (18 persen).(RR)

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
- Advertisement -spot_img

Berita Terkini